Pluviophile: Manfaat Menyukai Hujan bagi Kesehatan Mental

Saat musim hujan tiba, merupakan masa saat air menjadi bagian penting dalam kehidupan. Musim ini melahirkan dua wajah, yaitu rahmat alami dari Sang Pencipta serta pandangan kita yang sering kali penuh dengan ketidakpastian dan optimisme rendah di hadapan kondisi yang sulit dikontrol.
Banyak media serta pemikiran umum kita diisi oleh berbagai situasi yang selalu menimbulkan gangguan. Hujan deras, genangan air, kemacetan lalu lintas, tubuh terasa lelah, atap retak, ancaman penyakit flu, serta banyak lagi permasalahan lainnya. Hujan tampaknya dikaitkan dengan ketidaknyamanan dan rasa sedih.
Perhatian berlebihan terhadap aspek negatifnya menyebabkan kita melupakan fakta bahwa hujan juga mempunyai sisi psikologis serta rasa bahagia yang begitu dalam. Untuk beberapa orang, bunyi butiran air hujan merupakan pengobatan alami, suara putih yang tenang, dan tanda sah untuk istirahat.
Penggemar hujan, sebuah istilah yang melebihi arti sederhana "menikmati hujan", merupakan kunci untuk mengungkap sains tentang kebahagiaan saat musim penghujan, yaitu proses di mana otak kita bereaksi terhadap hujan tidak dengan perasaan khawatir, tetapi justru dengan kedamaian dan sukacita secara ilmiah.
Pluviophile: Bukan Sekadar Romantisme
Penyuka hujan adalah situasi di mana seseorang mengalami rasa tenang yang besar, nyaman, atau bahkan sangat gembira ketika terjadi hujan, baik itu hujan deras maupun hujan ringan.
Bayangkanlah, bila terdapat dua orang dalam satu kantor yang sama, ketika hujan lebat mulai mengguyur, seseorang (Bukan Pecinta Hujan) segera memeriksa aplikasi peta di handphonenya, cemas khawatir tersesat dalam kemacetan, serta merasa tegang akibat cucian masih basah.
Namun bagi orang kedua (Pluviophile), mereka justru merasa lebih tenang, menghirup udara dalam-dalam, serta merasakan pikirannya menjadi lebih terarah. Hujan seperti tombol reset yang memberikan ketenangan.
Lantas, apa itu pluviophile? Berikut adalah beberapa variasi parafraze dari istilah tersebut.
- Inti dari seorang Pluviophile bukanlah soal cinta, tetapi lebih pada hubungan psikologis dan indrawi yang spesifik terhadap unsur-unsur alam. Mengapa otak manusia bereaksi secara berbeda?
- Yang menjadi inti dari sifat orang Pluviophile adalah tidak berkaitan dengan asmara, namun lebih kepada ikatan emosional dan perasaan khusus terhadap elemen-elemen lingkungan. Apakah ada alasan tertentu mengapa pikiran kita meresponsnya begitu berbeda?
- Esensinya, pluviophile bukan tentang percintaan, tapi tentang keterhubungan batin dan penginderaan unik terhadap hal-hal di alam. Jadi, apa penyebab perbedaan respons otak kita?
- Ciri utama orang yang memiliki rasa suka akan hujan bukanlah karena urusan kekasih, melainkan adanya koneksi jiwa dan panca indera yang istimewa terhadap elemen-alami. Kenapa otak kita justru menanggapi ini secara beragam?
- Kunci makna dari pluviophile bukan sekadar soal romantisme, melainkan interaksi mental dan fisikal yang eksklusif terhadap dunia alam. Maka, apakah ada alasannya mengapa otak kami memproses hal itu secara berlain-lainan?
Ilmu Pengetahuan Hujan: Suara Putih dan Hormon
Kebahagiaan yang dialami oleh seorang Pluviophile pada masa hujan bukan sekadar kebetulan atau khayalan semata. Terdapat paling sedikit dua mekanisme ilmiah utama yang berfungsi dalam otak.
1. Kelebihan Pink Noise (Bukan Sekadar White Noise)
Kadang kita mengacu pada suara hujan sebagai white noise. Namun, berdasarkan beberapa penelitian neurosains terkait fungsi pendengaran, suara hujan yang lebat lebih mirip dengan pink noise.
White Noise mempunyai distribusi frekuensi yang seragam pada seluruh spektrum. Pink Noise memiliki penyebaran energi yang merata, namun intensitas suaranya berkurang saat frekuensinya naik.
Bunyi hujan, gelombang samudra, atau denyut jantung terkadang disebut sebagai Suara Merah Muda karena ciri khasnya yang lebih halus dan tetap nyaman didengar.
Tingkat kebisingan hujan yang konsisten ternyata efektif dalam menekan suara tiba-tiba (misalnya, knalpot mobil, teriakan, atau pemberitahuan tak terduga) yang secara alami menyebabkan respon stres di otak (aktivasi amigdala).
Berkembangnya Pink Noise membuat otak lebih mudah memasuki fase alfa, yakni pola gelombang otak yang berkaitan dengan suasana tenang, rileks, serta siap dalam proses belajar maupun istirahat. Untuk para penggemar hujan, Pink Noise dari suara hujan berfungsi sebagai penyaring alami yang menghadirkan ketenangan.
2. Petrichor: Wangi Kesadaran yang Berubah Secara Alami
Saat butiran air yang pertama mengenai tanah kering, timbullah wangi spesifik yang biasa disebut baunya tanah lembap. Dari segi sains, aroma tersebut dikenal dengan istilah Petrichor.
Aroma petrichor terbentuk dari gabungan dua unsur utama. Yang pertama adalah geosmin, yaitu senyawa organic yang diproduksi oleh bakteri tanah bernama Actinomycetes. Sementara itu, yang kedua ialah minyak tumbuhan, yakni minyak yang dilepaskan oleh tanaman saat musim kering dan tertahan pada permukaan tanah.
Diana Young menyatakan bahwa respons tubuh manusia terhadap geosmin bisa jadi memiliki akar evolusi. Dulu, baunya petrichor merupakan pertanda datangnya hujan yang menjadi kebutuhan penting bagi kehidupan. Otak kita secara alami menghubungkan aromanya dengan rasa aman, harapan, serta kelanjutan hidup, sehingga menimbulkan perasaan tenang dan nyaman.
Kebahagiaan Orang yang Menyukai Hujan sebagai Mekanisme Penyesuaian yang Sehat
Dalam tengah kesibukan dunia modern yang penuh dengan tuntutan dan kecepatan, kebahagiaan seorang Pluviophile merupakan cara efektif untuk menghadapi tekanan hidup.
Ketika kita bekerja dari rumah atau tengah menghadapi tenggat waktu yang ketat, suara hujan secara bersama-sama menciptakan kesempatan untuk berhenti sejenak. Bayangkanlah, siapa yang bisa menyalahkan kita bila kinerja agak turun saat hujan lebat disertai guntur? Suara hujan memberikan kita alasan untuk:
Mengurus Diri Sendiri, mengambil jeda sebentar dari layar gadget, menyeduh minuman panas, atau hanya sekadar melihat keluar jendela. Menurunkan Kortisol, berbagai penelitian menunjukkan bahwa rileksasi yang dipicu oleh suara Pink Noise secara biologis bisa bermanfaat untuk mengurangi tingkat hormon stres kortisol dalam tubuh.Intinya adalah bahwa Pluviophile menunjukkan kepada kita bahwa kebahagiaan tidak selalu perlu dicari dari luar (seperti bepergian atau berbelanja), namun dapat ditemui pada saat-saat tenang dan biasa di rumah, cukup dengan mendengar suara alam. Hujan membuat kita terpaksa melambatkan ritme hidup.
Terapi Hujan dalam Perawatan Jiwa
Berikut beberapa tindakan nyata yang dapat kita lakukan untuk memanfaatkan hujan sebagai pengobatan alami, antara lain:
1. Nyalakan Suara Kebisingan Merah Hujan Dengan Sengaja
Bukan hanya sekadar menghirup suara hujan dengan cara diam-diam. Tutuplah mata sesaat, lalu perhatikan irama bunyi yang konsisten. Saat sedang bekerja, gunakan headphone dan dengarkan rekaman suara hujan atau Pink Noise murni.
Studi menemukan bahwa perhatian terhadap pola irama ini dapat merangsang gelombang alfa dalam otak, memberikan suasana tenang bagi tubuh, serta meningkatkan kemampuan fokus saat bekerja (bukan justru membuat mengantuk).
2. Hirup Aroma Tanah Setelah Hujan Untuk Menyegarkan Otak Anda
Segera setelah hujan mulai mengguyur (khususnya hujan pertama setelah musim kemarau), pergilah sejenak ke balkon atau buka jendela secara penuh. Tarik nafas yang dalam.
Perilaku menghirup aroma petrichor (geosmin) merupakan reset saraf yang instan. Dari sudut pandang evolusi, tindakan ini memberi pesan ketenangan dan harapan kepada otak Anda, sehingga dapat memperbaiki rasa cemas akibat kemacetan jalan atau tekanan kerja.
3. Jadwalkan 'Jeda Hujan'
Berilah kesempatan pada diri sendiri untuk berhenti sejenak selama 5 sampai 10 menit ketika hujan turun deras. Jika Anda sedang bekerja, manfaatkan waktu tersebut untuk menyeduh secangkir teh panas, melihat butiran-air yang mengalir di kaca jendela, atau hanya sekedar meregangkan badan.
Orang yang menyukai hujan secara sehat ialah mereka yang mengetahui kapan harus mengambil jeda. Bila hujan membuat dunia luar menjadi lebih pelan, izinkan dirimu di dalamnya juga turut merasakan keadaan itu. Hal ini merupakan salah satu mekanisme penanganan stres yang penting.
4. Buat Area Tenang Saat Hujan (Sudut Hygge)
Siapkan sebuah sudut dalam rumah yang sengaja dibuat nyaman saat hujan (contohnya dengan bantalan lembut, selimut kesayangan, dan buku-buku). Konsep Hygge (kemewahan kehangatan ala Denmark) sangat cocok diterapkan pada musim hujan.
Ketika kita memiliki suatu tempat aman dan nyaman yang tersedia, kita tidak lagi memandang hujan sebagai halangan. Justru, hujan menjadi alasan untuk merasakan kenyamanan yang telah kita persiapkan. Hal ini mengganti pandangan terhadap ketidakterselesaian dengan kebahagiaan yang dinantikan.
Peristiwa Pluviophile serta ilmu yang terkait menggambarkan bahwa musim penghujan tidak hanya menyehatkan lingkungan namun juga memberikan manfaat psikologis. Hal ini lebih dari sekadar kebanjiran dan kemacetan, melainkan menjadi peluang bersama dalam menjaga kesehatan mental.
Jangan gunakan hujan sebagai dalih untuk merengek. Anggaplah dia sebagai pengobatan yang tenang, bermanfaat, dan memotivasi. Manfaatkan kesempatan suara pink ini untuk melakukan refleksi diri atas perasaan hilang atau pekerjaan yang sempat ditunda.
Kebahagiaan seorang Pluviophile saat musim hujan merupakan peringatan bahwa dalam kesulitan, kita tetap dapat menemukan ketenangan lewat bunyi hujan yang menjadi anugerah dari Tuhan.
Posting Komentar untuk "Pluviophile: Manfaat Menyukai Hujan bagi Kesehatan Mental"
Posting Komentar